Kamis, 18 Maret 2010

Penggunaan animasi dalam pembelajaran biologi


PENGGUNAAN MEDIA ANIMASI DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI


Oleh : IndiaKiloAlpa

Abstrak

Banyaknya kendala yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran seringkali menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Media yang digunakan sering kurang sesuai dan kurang komunikatif sehingga siswa belum dapat memaksimalkan pengalaman belajarnya. Untuk itu diperlukan satu desain media interaktif yang membuat siswa ikut berpartisipasi dalam pembelajaran. Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan terus dilakukan seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Berbagai inovasi pembelajaran dengan upaya perluasan bahan ajar telah memposisikan komputer sebagai alat yang memberikan kontribusi positif dalam proses pembelajaran. Media animasi diharapkan akan dapat mempermudah pemahaman siswa dan bermanfaat bagi guru biologi dan siswa, sebagai media pendukung pembelajaran di sekolah sehingga kegiatan pembelajaran biologi di SMA dapat berjalan sesuai rencana.

Kata Kunci : media animasi, pembelajaran biologi

A. Pendahuluan

Mutu pendidikan di Indonesia masih sangat jauh dari harapan. Beragam permasalahan muncul dari berbagai sisi. Keadaan laboratorium yang belum lengkap, lingkungan sekolah yang tidak memadai, waktu dan cara belajar siswa yag tidak tepat, serta cara penyampaian materi oleh guru kurang sesuai, merupakan faktor yang menyebabkan prestasi biologi siswa SMA masih rendah.

Berbagai kesibukan dan aktivitas guru dalam melaksanakan tugas tambahan di luar tugas mengajar menjadi pengaruh kuat terhadap perhatian mereka pada siswa. Sementara di beberapa daerah terpencil, kekurangan guru menjadi masalah yang memprihatinkan dan merupakan faktor pemicu ketidakperdulian guru terhadap siswanya. Hal ini sangat berdampak pada kualitas proses pembelajaran yang tercermin pada hasil yang dicapai siswa dengan ditandai adanya penguasaan konsep yang lemah sehingga prestasi siswa kurang optimal. Penguasaan konsep yang lemah didorong adanya aktivitas merugikan yang sering terjadi dalam pembelajaran. Adapun kegiatan yang merugikan tersebut adalah siswa hanya sebatas duduk, mendengarkan penjelasan guru, meniru pola-pola yang diberikan guru, dan mencontoh cara-cara guru menyelesaikan soal-soal. Guru hanya memberikan ceramah secara teoritis kepada siswa dan duduk di depan sampai akhir berlangsungnya pembelajaran.

Bertitik tolak dari kenyataan tersebut di atas, maka proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan (isi atau materi ajar) dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan (siswa/pebelajar atau mungkin juga guru). Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbul-simbul komunikasi berupa simbul-simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya ditafsirkan oleh penerima pesan (Criticos, 1996). Adakalanya proses penafsiran tersebut berhasil dan terkadang mengalami kegagalan. Kegagalan ini bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya adanya hambatan psikologis (yang menyangkut minat, sikap, kepercayaan, inteligensi, dan pengetahuan), hambatan fisik berupa kelelahan, keterbatasan daya alat indera, dan kondisi kesehatan penerima pesan. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah hambatan kultural (berupa perbedaan adat istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan), dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan sekitar (Sadiman, dkk., 1990).

Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan sudah dan terus ditingkatkan, baik pembenahan kurikulum maupun kualitas tenaga pengajarnya. Peningkatan dan perbaikan fisik sekolah tidak akan berarti banyak apabila tenaga pengajar atau guru tidak dilibatkan dalam upaya ini. Guru dituntut untuk lebih aktif pada pemilihan materi, media dan juga metode yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Untuk mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang terjadi selama proses penafsiran dan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, maka sedapat mungkin dalam penyampaian pesan (isi/materi ajar) dibantu dengan menggunakan media pembelajaran. Diharapkan dengan pemanfaatan sumber belajar berupa media pembelajaran, proses komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih efektif dan efisien (Gagne, 1985).

Perkembangan teknologi dengan berbagai produk mutakhirnya, sangat berperan kuat dalam memberikan warna pada berbagai sektor termasuk dunia pendidikan. Maraknya paket program yang disusun oleh ahli komputer yang dengan inovasinya mengangkat materi pembelajaran ke dalam perangkat lunak memberikan nuansa bagi guru mata pelajaran (mapel) yang cukup membantu mereka dalam proses belajar mengajar. Agar siswa lebih tertarik mempelajari ilmu ini, perlu adanya perubahan dalam metode pembelajaran, sehingga menjadi lebih atraktif dan aplikatif. Oleh karena itu, dibutuhkan media yang dapat membantu menjembatani penyelesaian masalah pembelajaran ini yaitu dengan menggunakan media pembelajaran animasi. Media animasi ini diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas pemahaman siswa terhadap materi ajar sekaligus bermanfaat bagi pengajar Biologi sebagai media pendukung pembelajaran di sekolah.

B. Pembelajaran Biologi

Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan guru sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Pembelajaran adalah upaya guru menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004: 2).

Peristiwa belajar yang disertai proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat. Karena belajar dengan proses pembelajaran melibatkan peran serta guru, bahan belajar, dan lingkungan kondusif yang sengaja diciptakan.

Pada hakekatnya pembelajaran (belajar dan mengajar) merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa (Hidayah dan Sugiarto, 2004: 3). Sebagai komunikan pada proses pembelajaran adalah siswa, sedangkan komunikatornya adalah guru dan siswa. Jika siswa menjadi komunikator terhadap siswa lainnya dan guru sebagai fasilitator, maka akan terjadi proses interaksi dengan kadar pembelajaran yang tinggi. Seorang guru perlu menyadari bahwa proses komunikasi tidak dapat berjalan dengan lancar, bahkan proses komunikasi dapat menimbulkan kebingungan, salah pengertian, atau bahkan salah konsep. Kesalahan komunikasi bagi seorang guru akan dirasakan oleh siswanya sebagai penghambat pembelajaran. Kesalahan komunikasi dalam pembelajaran dapat terjadi karena faktor (1) guru, (2) siswa atau (3) siswa dan guru.

Komunikasi yang efektif banyak ditentukan juga pada keaktifan penerima (komunikan). Feed back (mental maupun fisik) dari komunikan dapat dijadikan sebagai alat kontrol komunikator untuk mengevaluasi diri, sehingga memungkinkan komunikator melakukan perbaikan-perbaikan cara komunikasi yang telah dilakukan. Untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan-kemungkinan terjadinya salah komunikasi maka diperlukan alat bantu (sarana) yang dapat membantu proses komunikasi. Sarana tersebut selanjutnya disebut media (Hidayah dan Sugiarto, 2004: 4).

Biologi merupakan salah satu subyek pelajaran di sekolah dan universitas di seluruh dunia, yang sudah kita kenal semenjak sekolah menengah. Namun demikian, banyak siswa yang berpendapat bahwa mata pelajaran ini kurang menarik dan membosankan, yang disebabkan karena pembelajaran ilmu dasar seperti biologi di banyak sekolah masih dilakukan secara konvensional sehingga kurang menarik.

Sesuai karakteristik dan tujuan mempelajari biologi, tidak hanya menghafal terminologi dan konsep. Bukan menghafal langkah metode ilmiah, melainkan melakukan kegiatan proses belajar yang mampu memecahkan suatu persoalan.
Keberadaan fisik benda atau objek belajar biologi menjadi sangat vital dalam pembelajaran biologi. Ketiadaan objek benda yang ditemui secara langsung menuntut guru menggantinya dengan media lain yang sesuai. Media gambar/film/foto adalah sedikit contoh guru dalam mensiasati ketiadaan objek belajar yang konkrit. Media yang disediakan seringkali kurang sesuai dan kurang komunikatif sehingga siswa belum terpuaskan pengalaman belajarnya. Untuk itu perlu ada desain media interaktif yang membuat siswa ikut berpartisipasi dalam pembelajaran biologi.

C. Media Animasi

Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely (dalam Arsyad, 2005: 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

Media animasi merupakan peralatan elektronik digital yang dapat memproses suatu masukan untuk menghasilkan suatu keluaran yang bekerja secara digital. Media animasi adalah hasil teknologi modern yang membuka kemungkinan-kemungkinan yang besar alat pendidikan (Nasution, 1999: 110).

Berbagai inovasi pembelajaran dengan upaya perluasan bahan ajar telah memposisikan komputer sebagai alat yang memberikan kontribusi yang positif dalam proses pembelajaran, khususnya pembelajaran Biologi (dalam Supriyatna, 2005) menyatakan bahwa komputer dapat melakukan sejumlah kegiatan untuk membantu guru. Media animasi dapat mengindividualisir pengajaran, melaksanakan manajemen pengajaran, mengajarkan konsep, melaksanakan perhitungan, dan menstimulir belajar siswa.

Lee (dalam Ena, 2007) merumuskan paling sedikit ada delapan alasan pemakaian komputer sebagai media pembelajaran. Alasan-alasan itu adalah: pengalaman, motivasi, meningkatkan pembelajaran, materi yang otentik, interaksi yang lebih luas, lebih pribadi, tidak terpaku pada sumber tunggal, dan pemahaman global.

Levie dan Levie (dalam Arsyad, 2005: 9) mengemukakan bahwa pengajaran menggunakan stimulus audio visual membuahkan hasil yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Gerlach dan Ely (dalam Arsyad, 2005: 9) ) mengemukakan tiga ciri media pendidikan yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dalam hal ini media animasi :

1. Ciri Fiksatif (Fixative Property)

Media animasi mampu menyimpan, merekam, melestarikan segala suatu objek pengajaran dan dapat ditransportasikan tanpa mengenal waktu.

2. Ciri Manipulatif (Manipulative Property)

Transformasi suatu objek dimungkinkan karena media animasi memiliki ciri manipulatif. Aksi suatu gerakan dapat digambarkan dengan jelas dengan kemampuan manipulatif dari media animasi.

3. Ciri Distributif (Distributive Property)

Ciri distributif dari media animasi memungkinkan suatu objek ditransportasikan melalui ruang dan secara bersamaan disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus dan pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu. Animasi yang telah direkam dapat digunakan secara berulang-ulang di suatu tempat. Konsistensi informasi yang telah direkam akan menjamin sama atau hampir sama dengan aslinya.

Kegiatan pembelajaran berbasiskan teknologi komputer akan mengubah tuntutan peranan guru dalam pembelajaran. Guru tidak lagi bertidak sebagai penyampai materi, tetapi lebih bertindak sebagai fasilitator bagi siswa untuk menemukan konsep-konsep yang dipelajari, tentu saja dalam proses menemukan ini adalah proses menemukan kembali konsep yang telah ditemukan.

D. Pembelajaran Biologi dengan Menggunakan Media Animasi

Media animasi yang digunakan dalam proses pembelajaran biologi ternyata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian Emelda Marzuki mengenai Pengaruh Animasi Multimedia dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Penguasaan Materi Biologi Siswa (Studi eksperimental pada siswa kelas XI SMA Negeri 5 Bandar Lampung TP 2008/2009) menjelaskan bahwa penggunaan animasi multimedia dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penguasaan materi pokok Sistem Peredaran Darah oleh siswa dan penguasaan materi pokok Sistem Peredaran Darah oleh siswa pada penggunaan animasi multimedia dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih tinggi dibanding tanpa menggunakan animasi multimedia.

Puryaningsih (2008) dalam hasil penelitiannya juga menunjukkan Penggunaan Media Animasi yang Ditinjau dari Motivasi Berprestasi dan Kemampuan Awal dalam Pembelajaran Biologi Umum (studi eksperimen pada mahasiswa semester 1 jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Palangkaraya T P. 2007/2008 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa, serta menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan media animasi lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan tanpa menggunakan media animasi. Penggunaan media animasi prestasi belajar mahasiswa lebih baik dari pada menggunakan modul, penelitian membuktikan bahwa ada interaksi antara motivasi berprestasi dengan kemampuan awal terhadap prestasi belajar biologi umum

Animasi yang efektif memerlukan kepatuhan untuk beberapa aturan atau prinsip-prinsip mendasar yang dikembangkan antara lain :

n Prinsip pertama adalah bahwa animasi harus dinarasikan secara lisan, sebaiknya dengan nada percakapan (Mayer dan Anderson, 1992; Sweller, 1994; Lowe, 2003; Mayer, 2003).

n Prinsip kedua adalah bahwa kotak teks atau label harus muncul dari struktur yang tepat seperti yang pertama kali disebutkan dan bahwa nilai dari label ini ditingkatkan dengan mendengar teks pada waktu yang sama (Mayer, 2003).

n Prinsip ketiga adalah bahwa materi harus tidak terlalu detail, dan tidak berlebihan (Tversky dan Morrison, 2002).

n Prinsip keempat adalah bahwa elemen kontrol (misalnya, kemampuan untuk berhenti, mundur, cepat-maju) harus disediakan (Tversky dan Morrison, 2002).

O’day dalam penelitiannya yang berjudul Animated Cell Biology :
A Quick and Easy Method for Making Effective, High-Quality Teaching Animations” menjelaskan bahwa animasi bernarasi lebih efektif daripada animasi tanpa narasi untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas.

Media pembelajaran animasi yang merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran ini dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapan saja digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Kehadiran media animasi dalam pembelajaran Biologi sangat mendukung proses penyampaian berbagai informasi dari guru ke siswa. Proses-proses biologis yang kompleks dapat dengan mudahnya dijelaskan kepada siswa, seperti proses fotosintesis, respirasi aerob dan berbagai proses dalam sistem organ manusia. Pentingnya animasi sebagai media pembelajaran adalah memiliki kemampuan untuk memaparkan sesuatu yang rumit atau komplek serta sulit dijelaskan dengan hanya gambar atau kata-kata saja. Dengan kemampuan ini maka media animasi pembelajaran dapat digunakan untuk menjelaskan materi yang secara nyata tidak dapat terlihat oleh mata.

Ada tiga jenis format animasi yaitu animasi tanpa sistem kontrol misalnya untuk pause, memperlambat kecepatan pergantian frame, zoom in, zoom out dan lain sebagainya, animasi dengan sistem kontrol dan animasi manipulasi langsung, dimana guru dapat berinteraksi langsung dengan kontrol navigasi.

Kelebihan media animasi dalam pembelajaran biologi diantaranya :

1. Memudahkan guru untuk menyajikan informasi mengenai proses yang cukup kompleks dalam kehidupan, misalnya siklus nitrogen, respirasi aerob, sistem peredaran darah dan proses lainnya.

2. Memperkecil ukuran objek yang cukup besar dan sebaliknya seperti hewan dan mikroba.

3. Memotivasi siswa untuk memperhatikan karena menghadirkan daya tarik bagi siswa terutama animasi yang dilengkapi dengan suara.

  1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual.
  2. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna.
  3. Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.

Kelemahan dari media animasi diantaranya :

  1. Mememerlukan kreatifitas dan ketrampilan yang cukup memadai untuk mendesain animasi yang dapat secara efektif digunakan sebagai media pembelajaran
  2. Memerlukan software khusus untuk membukanya
  3. Guru sebagai komunikator dan fasilitator harus memiliki kemampuan memahami siswanya, bukan memanjakannya dengan berbagai animasi pembelajaran yang cukup jelas tanpa adanya usaha belajar dari mereka atau penyajian informasi yang terlalu banyak dalam satu frame cenderung akan sulit dicerna siswa.

Pengembangan media khususnya animasi saat ini sangatlah dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasai siswa dan juga memotivasi siswa untuk belajar. Animasi menjadi pilihan untuk menunjang proses belajar yang menyenangkan dan menarik bagi siswa. Belajar dengan animasi maka siswa mampu memahami materi pelajaran dengan lebih mudah dan cepat. Kemampuan siswa membayangkan peristiwa-peristiwa yang telah dilihat melalui aplikasi ditunjukkan dengan kemampuan menceritakan kembali dengan baik dan relatif cepat dalam menyampaikannya. Dengan media ini, kegiatan pembelajaran biologi di SMA dapat berjalan dengan efektif.

E. Kesimpulan

Pembelajaran yang merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa akan menghadirkan proses interaksi dengan kadar pembelajaran yang tinggi apabila kesalahan dalam berkomunikasi di minimalisasi agar proses pembelajaran tidak terhambat melalui alat komunikator yang efektif, dalam hal ini media pembelajaran.

Media animasi dalam proses pembelajaran biologi ternyata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa karena memiliki kemampuan untuk memaparkan sesuatu yang rumit atau komplek melalui stimulus audio visual yang akhirnya membuahkan hasil lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Pembelajaran dengan memanfaatkan media animasi dapat menciptakan pembelajaran biologi menjadi efektif, menyenangkan, tidak membosankan sehingga mempercepat proses penyampaian materi kepada siswa.

DAFTAR RUJUKAN

Arsyad, A. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Grafindo Persada

Criticos, C. 1996. Media Selection. Plomp,T &, D.P (Eds) : International Encyclopedia of Educational Technology, 2 nd ed. UK. Cambridge University Press. Pp. 182-185

Ena, OT. Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi.

http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/OudaTedaEna.doc+POWER+P.

Gagne, R. M. 1985. The Condition of Learning and Theory of Instruction, 4 th d. New York : CBS College Publishing

Hidayah, I dan Sugiarto. 2004. WorkShop Pendidikan Matematika. Semarang: Jurusan Matematika

Nasution. 1999. Teknologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara

Supriyatna, D. 2006. High Teach Approach dalam Pembelajaran Matematika Berbasis Komputer di Sekolah (www.pppgtertulis.or.id ).

Sadiman, A.S., Rahardjo, R., Haryono, A., & Rahadjito. 1990. Media Pendidikan: pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya, edisi 1. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali

Oetomo, D.,2002. E-Education Konsep Teknologi dan Aplikasi Intenet Pendidikan, Penerbit ANDI, Yogyakarta

O, Day.,H.2006. Animated Cell Biology : A Quick and Easy Method for
Making Effective, High-Quality Teaching Animations”. CBE- Life Sciences Education.
Vol. 5, 255–263. Canada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar